Friday, June 25, 2004

Who's the Boss?

Coba Anda bayangkan keadaan startup Anda, yang berdiri empat tahun lalu, sepuluh tahun mendatang. Katakanlah perusahaan Anda sukses besar, dan Anda tidak (belum? :D) digusur oleh venture capital yang Anda mintai tolong untuk ikut membesarkan. Kesuksesan perusahaan Anda menjadikan klien berebut datang, order berlipat, pegawai Anda berlipat 100 dari mula-mula 4 orang. Pada saat itu Anda sudah punya bagian marketing, akunting, hukum, HRD, .. padahal Anda masih ingin terus berkecimpung di bidang teknis.

Pada saat itu pasti Anda sudah mengalami masalah yang dibahas di artikel di Ask Slashdot berjudul Interviewing Your Future Boss?.

Saya boleh jadi akan menghadapi masalah ini beberapa tahun lagi. Jadi saya ingin bersiap untuk itu. Apakah saya lebih baik banting setir ke manajemen? Apa ruginya kalau saya tetap bertahan di engineering, non manajerial? Apakah tidak akan ada kerumitan apabila saya sebagai salah satu pemilik perusahaan, harus menjadi "bawahan" dari orang yang saya gaji?

Mungkin, salah satu jalan "mudah" adalah dengan menjual perusahaan lama dan membuat startup baru lagi.

2 comments:

Anonymous said...

Pak Andika,

Maksud dijual ini, pak Andika menjual seluruh saham di
perusahaan lama? Kalau iya, apa nggak sayang. Pendapat saya, tidak usah jadi manajemen dan teknis, cukup jadi pemilik dan buat 'start-up' baru, kalau terjadi sesuatu dengan yang baru, kan ada yang lama untuk dijadikan 'cash-cow'.

--yoszt

Amal said...

Nikmati jadi teknisi andal dan tetap menjadi orang top di perusahaan. Pada waktu Yahoo! terkena serangan DOS pada tahun 2000 dulu, David Filo, salah satu pemilik Yahoo!, langsung turun tangan. Laporan di majalah Time menjuluki kejadian itu dengan ungkapan: ditangani langsung oleh teknisi termahal di dunia!

Apa itu bisa di Indonesia? Kalau bekerja di perusahaan orang lain, rasanya susah. Karena mayoritas perusahaan di negara kita masih memandang lebih rendah spesialisasi teknis dibanding manajerial (CMIIW).

Namun untuk perusahaan yang dibangun sendiri, saya rasa mungkin saja.

Saya sendiri lebih memilih menjadi bos perusahaan namun masih punya kesempatan mengerjakan hal teknis dibanding -- seperti stereotip sinetron buatan Punjabi -- menjadi bos dan terlihat gemerlapan dan punya banyak waktu luang untuk main golf. :)