Friday, May 13, 2005

Nomor Polisi Kendaraan Jakarta

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat terkejut ketika melihat nomor polisi dari mobil di Jakarta yang saya jumpai. Huruf I dan O yang selama ini tidak pernah dipakai pada karakter di belakang nomor sekarang banyak terlihat. Bukan hanya dipakai pada karakter kedua, bahkan pada karater pertama. Jadi nomor polisi kendaraan bermotor (NPKB) di Jakarta bisa saja B-nnnn-OA atau B-nnnn-IZ. Sebenarnya alasan kenapa I dan O tidak dipakai pada NPKB cukup logis: agar tidak mudah rancu antara 1 (angka satu) dan I (huruf i), serta 0 (angka nol) dan O (huruf o). Tapi barangkali Polda Metro Jaya sudah kehabisan stok nomor.

Hal "baru" berikutnya adalah, banyak sepeda motor dengan NPKB yang memiliki ekor 3 huruf, misalnya B-1234-ABC, suatu penyimpangan dari kebiasaan sebelumnya yang hanya mengenal 0, 1, atau 2 huruf di belakang angka. Mestinya ketika kebijakan ini ditempuh, pemanfaatan huruf I dan O tidak diperlukan lagi. Tapi apakah kedua perubahan kebijakan tersebut bersamaan? Entahlah.

Sebenarnya, pola NPKB lama bisa mengakomodasi berapa banyak kombinasi? Polanya adalah B-nomor(1 s/d 4 digit)-huruf(0 s/d 2) digit. Jadi kombinasinya = 9999 x 27 x 26 = 7.019.298. NPKB dengan huruf depan B dipakai di DKI, Tangerang, dan Bekasi. Jadi, cacah kendaraan bermotor di DKI, Tangerang, dan Bekasi sudah lebih dari 7 juta buah?

3 comments:

Amal said...

Jika dilihat dari jumlah penduduk dan aktivitas ketiga daerah tersebut, Jakarta, Tangerang, Bekasi, sangat mungkin angka 7 juta+ tersebut sudah terlewat untuk semua kendaraan bermotor.

preman said...

ngga bisa langsung ngitung gitu,
ada beberapa nomer dan kode yg memang reserved, misal plat dgn ujung BS, BP, BD dll, ada juga yg ujungnya di reserve daerah, misal Ux buat Depok ... belum lagi nomer2 cantik yang sengaja di simpan sampai ada penawar yg berani, dan nomer2 lain yg di reserved untuk keperluan tertentu

priyo said...

Yang lebih aneh lagi, untuk huruf O di belakang ditambahi coretan (Ø). Padahal dalam bahasa komputer/matematika, lembang O dicoret miring artinya angka nol, bukan huruf O.

Dan itu artinya pula nopol di Jakarta bukan lagi berisi B-xxxx-ABC melainkan B-xxxx-xBC.

Masalah lain...

Kenapa sih Polda Metro begitu ngotonya mempertahankan kode B, sampe harus pake tiga huruf di belakang. Padahal kalo mereka mau ekspansi alias pake kode selain B, bisa aja sistem 2 huruf belakang dipertahankan. Misalnya jadi BP-xxxx-AB ato J-xxxx-AB.