Friday, September 03, 2004

Nuansa Bahasa, Kapan Perlu Dipahami?

Kita di Indonesia hampir tidak mengenal salju. Tapi di bangsa-bangsa yang sering berurusan dengannya sampai perlu memakai banyak istilah untuk salju. Dalam bahasa Inggris, dikenal snow, avalanche, blizzard, flurry, frost, ... Atau dalam bahasa Eskimo: aput, sasaq, apingaut, ... dan banyak lagi.

Di Jawa dikenal pula istilah-istilah yang berkaitan dengan padi: pari, beras, gabah, menir, dedak, ...

Ternyata dunia yang saya tekunipun juga menuntut pemahaman nuansa istilah. Kali ini, mungkin, agak sedikit menyimpang dari perkomputeran (walaupun tidak terlalu jauh):

Burnout: prolonged low voltage

Surge: prolonged high voltage
Spike: a momentary high voltage(?)
Sag: a momentary low voltage
Fault: a momentary power outage
Blackout: a prolonged power outage
Sedikit lebih kaya daripada aliran di Sunda atau giliran di Jawa kan? :-D

1 comment:

Amal said...

Karena urusan bahasa tsb. di salah satu artikel budaya di Surabaya Post pada tahun 1980-an dengan "bangganya" menyebut kekayaan Bahasa Indonesia: nasi, beras, lontong, kupat, gabah, semua di dalam Bahasa Inggris hanya disebut rice.

Karena orang Belanda tidak terpisahkan dengan keju, mereka juga punya jenis (dan tentunya sebutan) untuk keju: keju muda, tua, Gouda, masif, lembek, dll. (maaf, saya juga tidak hafal nama masing-masing).

Dalam hal sambal orang Indonesia juga "gila-gilaan", hanya berbeda satu jenis bumbu saja variasinya bisa dibikin ensiklopedia: sambal bajak, sambal terasi, sambal uleg, sambal colek, sambal petis, ...

Salah seorang teman mengusulkan: sebenarnya Bahasa Jawa bisa lebih adaptif terhadap istilah culinary yang selama ini dianggap sepele oleh orang Jawa sendiri dengan ungkapan, "Ah, itu cuma urusan dapur." Gunawan Muhammad pernah menulis sebuah perbandingan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dalam hal urusan dapur dengan menantang: coba sebutkan nama-nama alat masak di dapur dengan Bahasa Indonesia, dan bandingkan betapa sulitnya dibanding Bahasa Jawa. Saya sendiri tidak menguasai Bahasa Jawa dengan baik (apalagi tentang nama alat-alat di dapur), namun saya akui jika mendengar ibu-ibu yang sudah berusia lanjut dan berdialog tentang urusan dapur, ungkapan yang mereka gunakan efisien dan tepat pada sasaran yang dimaksud.