Tuesday, June 28, 2005

Spim Dari Presiden?

Hari ini beberapa nomor ProXL milik saya dan teman-teman menerima spim yang cukup mencurigakan. Pada field pengirim, tertulis PRESIDEN RI, bukan nomor. Isi pesannya adalah:

Stop penyalagunaan dan kejahatan Narkoba sekarang. Mari kita selamatkan dan bangun bangsa kita, menjadi bangsa yang sehat, cerdas, dan maju.
Saya duga, ada orang yang spoofing dan mengatasnamakan Presiden. Untuk membuktikan apakah memang 9949 memakai identitas pengirim "PRESIDEN RI", saya coba mengirim pesan singkat ke nomor itu, yang dengan segera dibalas dengan
Terima kasih atas partisipasi Anda dan pesan Anda telah kami terima. Ttd Presiden Republik Indonesia
Balasan ini tetap menampilkan nomor pengirim 9949, bukan PRESIDEN RI. Jadi?

Update (2005-06-28 14:22)

Informasi dari Dicky WP: Spim yang sama disebar juga ke pelanggan postpaid Satelindo dan IM3, dan pengirimnya memiliki akses ke SMSC master, bukan SMSC level berikutnya seperti yang dipakai oleh para penyedia jasa SMS.

Jadi, kemungkinan besar memang pesan tersebut dikirim dari tim SMS Presiden.

Tapi mengapa harus melakukan spim? Kenapa tidak menyisipkan pesan tersebut ke jawaban standar atas pesan yang masuk ke 9949 misalnya? Ada yang salah di tim SMS Presiden rasanya: masalah ETIKA.

6 comments:

Azil Adi Permana said...

kenapa aku gag dapet ya? ;))

Awan Kusuma said...

Saya dapet pak jam 4 lewat tadi. Udah saya posting di blog saya (http://godzalli.blogspot.com). Saya pakai kartu Halo Telkomsel

avianto said...

kalo memang si pakar termasuk salah satu tim ahli SMS, saya rasa sudah jelas culpritnya.

adinoto said...

hehehe... kalo ga tiap hari/tiap minggu satu gpp lah Pak. Bagian dari Presiden perhatian dalam membangun komunikasi ke rakyatnya. Daripada ga tau selama ini Presiden ngapain aja ya kerjanya ga pernah keliatan di masyarakat dampak realnya.

Semangat bekerja bersama gotong royong dibandingkan status menara gading kan lebih baik.

Ozzie said...

Setuju ama Mas Adinoto tuch

Daripada ga ada komunikasi sama sekali kan :D hehe.

Priyadi said...

wah, kalo mau 'membangun komunikasi ke rakyatnya' kenapa harus nyepam :(