Friday, April 22, 2005

Masih Ada 5,999 Milyar Prospek?

Kadang-kadang orang melakukan generalisasi yang keterlaluan. Coba saja lihat ini:

Jika menggunakan asumsi optimis Priyadi jumlah anggota FFSI sekarang telah mencapai 349.525 orang, maka dengan penduduk bumi 6 milyar, berarti masih ada potensial market sebesar 5,999 milyar!!
Tapi apakah generalisasi ini boleh dilakukan? Untuk kasus penjualan asuransi jiwa misalnya, saya setuju ini berlaku. Tapi untuk bisnis yang merugikan sebagian besar pemainnya, maka generalisasi ini sama saja dengan mengatakan: "Mari kita adu cepat menipu, selama masih mungkin untung".

Sigh.

16 comments:

Anonymous said...

Mbok ya biarin aja si itu jualan bisnisnya. elu bisnis aja yang lain sendiri. Selama dia ndak ngeganggu elu, ya sudah. Toh selama ini mau kampanye seberapa gede pun, si dia juga tetep melenggang kangkung ngejalanin bisnisnya dengan santai, mungkin malah makin menggurita aja.

Anonymous said...

yang kayak #1 inilah yg musti dibasmi kalau mau negara maju :D

kenapa di negara maju "penjahat" bisa dipenjara? karena itu di negara maju.

ZzZZZZzzz

Anonymous said...

#2, ngaca bung :P emang ente suci apa? hehehehe. Gua cuma bilang, percuma aja elu-elu berkoar-koar ngejelekin si itu. Tapi tau ngga? Ndak ada bau-baunya sama sekali. Itu kan sama aja dengan membuang resources, mending dipakai untuk yang lebih berguna daripada nulis2 ndak ada faedahnya ma skali.

Kayak menggarami lautan aja. Coba, memang si dia itu terpengaruh? Ngga kan :P kasian deh lu lu orang.

Saran saya, kalau mau memerangi begituan, ya yang bisa ada pengaruhnya gitu loh. Bicara di media massa yang dibaca orang banyak. Kalau cuma di sini-sini aja, wah, cuma segelintir yang mengerti/membaca.

Tirulah "cara" RS (bukan meniru orangnya ya).

andika said...

#1: mengganggu 'hati nurani' tuh ... :D

Priyadi said...

wah, #1 perlu baca blogosophy-nya ikhlasul amal: http://coretmoret.web.id/2005/03/atmosfir-blog/

Anonymous said...

Thanks buat mas Pri atas linksnya :) Ya begitulah, gua cuma menyampaikan gagasan saja yang agak sedikit berbeda.

Mungkin gema blog ini akan lebih terasa kalau masyarakat kita lebih melek internet. Internet terjangkau sampai ke desa-desa kecil. Akses internet cepat dan murah sehingga kita lebih mau berlama-lama menjelajah mencari informasi dan membaca berita (blog). Saat ini gua masih berkeyakinan bahwa masih sangat banyak orang yang merasa kesulitan dan malas dengan internet karena lambat dan mahal. Akses internet berkecepatan tinggi cuma dinikmati oleh kota-kota besar.

Jadi, yuk, kita "juga" memperbesar porsi protes kita ke pemerintah untuk hal ini. Apa benar begitu jalannya? Semoga.

andika said...

#6: ngeles? :P

Anonymous said...

#1
bukannya sok suci, tapi gw emang masih mampu sih idup tanpa musti kalang kabut manfaatin setiap kesempatan yang ada. mau dibilang suci mau dibilang naif yah terserah lah, katanya jangan urusin orang? lah loe kok urusin gue?

jujur aja, gue ngeliat yang kalang kabut manfaatin setiap kesempatan yang ada tuh RENDAH!

memerangi nggak ngaruh? again: kok loe jadi ngurusin sih? kalau bicara mbok yang konsisten toh mas?¿?¿?

terserah orang dong mau memerangi pake cara apa, biar caranya cuma nyampe ke segelintir orang ya biarin aja, kok ngurusin?

Anonymous said...

#mr. andika

katanya kalau anak kecil umur sekian itu udah bisa membedakan yang baik dan yang benar (hati nurani), nah itu udah pada bangkotan juga masih usaha mungkir, nganggep "balapan" itu "bener".

indo indo... bubar aja deh

Anonymous said...

Ndak tau deh buat yang nomor berapa, abisnya di blog ini ndak keliatan nomornya.

Ngapain coba gue ngurusin elu, wong gua cuma nanya aja, itupun karena elu dah mencoba ngurusin gue :P Read your own comments dul.

Kalo lu dah mampu idup tanpa mesti kalang kabut manfaatin kesempatan ya sutraaa, good for you dul :P

Menyampaikan pendapat tuh ngga sama dengan ngurusi, gitu aja kok masih mesti dijelaskan toh? Kan gua ngga perduli lu nanggepin omongan gua pa kagak :P Itu sih terserah elu aja. Masa yg gampang gini ndak ngerti?

Memang terserah orang pake cara apa, mo pake blog kek, mo pake email kek, terserah :P Tapi kan ndak ada salahnya gue ngomong apa yang ada di pikiran gue kan? Apa ini salah? Perkara lu setuju ama omongan gue, ya itu urusan lu :P Duh, gitu aja ndak ngerti, aneh banget. Gue juga gak maksa-maksain supaya lu orang ngikut omongan gua. Gua cuma nulis, cuma ngomentari, bukan nyuruh atau maksa.

Jangan karena ada orang lain punya pemikiran yang berbeda lalu lu jadi sewot. Wes mboh, kok koyoke gak mudeng wong sitok iki :P

Anonymous said...

coba dibaca lagi tanggepan ai yang pertama. ai tidak pernah ngurusi you, ai cuma nyampaikan pendapat persis seperti yang yey tulis panjang lebar diatas.

yey duluan yang ngompori dg membawa2 garam sebagai perbandingan. yey juga yang ngajak2 demo (memperbesar porsi protes ke pemerintah).

trus kalau udah demo, pemerintah diganti sama siapa? sama orang2 macam yey? sama aja kaleeeeeeee, malah bisa lebih parah. rakyat disuruh wajib jadi downline, wakakekek

kalau mau negara beres, ga usah lah demo2. urus aja tuh yang berotak macam AA dan downline2nya.

Anonymous said...

Ya situ juga baca dong pendapat gue :P Sudah ngerti bener belom?

Memang gue nyuruh lu orang demo kayak di jalan2 bawa spanduk?

Dan memang gue perduli apa lu demo apa kagak?

Bisa bahasa Indonesia gak sih?

Menyuruh dan ngasih pendapat/saran itu beda artinya dul. Ini untuk yang kedua kalinya gua kasih tau, kalo masih ndak ngerti ya kebangetan deh lo :P

Dan memang gua mau apa mimpin? Ngomong kok ndak ada juntrungannya. Memang gua bakalan nyuruh lu jadi downline apa?

Ya gini ini loh tingkah orang yang ngga bisa menerima perbedaan :) Jangan bisanya memaksakan kehendak. Kalau sudah gitu, menyerang orangnya. Oalah le ... le ...

Yusuf Nurrachman said...

Mas, sampeyan marai padu uwong .. hehehe....
"kalau mau negara beres, ga usah lah demo2. urus aja tuh yang berotak macam AA dan downline2nya"

Yup .. di urus dan di arahkan ke "jalan yang benar". Cara mereka untuk memotivasi orang sungguh mengagumkan.

wicax said...

omigod.... mmm ntar kalau udah 6,000,000,000 orang udah pada ikutan, dan semua berhenti kerja biasa, duitnya dari mana ya...

yg bikin barang, yg jadi petani, yg ngurusin website, semuanya pada sibuk cari downstream dong...

Anonymous said...

Tapi kan hal itu tidak bakalan terjadi, jadi ya tenang saja.

Anonymous said...

[si anonimus menulis]
Thanks buat mas Pri atas linksnya :) Ya begitulah, gua cuma menyampaikan gagasan saja yang agak sedikit berbeda.

Mungkin gema blog ini akan lebih terasa kalau masyarakat kita lebih melek internet. Internet terjangkau sampai ke desa-desa kecil. Akses internet cepat dan murah sehingga kita lebih mau berlama-lama menjelajah mencari informasi dan membaca berita (blog). Saat ini gua masih berkeyakinan bahwa masih sangat banyak orang yang merasa kesulitan dan malas dengan internet karena lambat dan mahal. Akses internet berkecepatan tinggi cuma dinikmati oleh kota-kota besar.

Jadi, yuk, kita "juga" memperbesar porsi protes kita ke pemerintah untuk hal ini. Apa benar begitu jalannya? Semoga.
[si anonimus selesai menulis]

kalau saya baca tulisan anda, sepertinya lebih besar porsi "jangan munafik" dan "gak usah urusin orang lain" daripada "gagasan yang berbeda". jadi plis deh, cari downline ke desa aja, disana pasti banyak yang bisa dikadalin hahaha.

[Yusuf Nurrachman menulis]
Yup .. di urus dan di arahkan ke "jalan yang benar". Cara mereka untuk memotivasi orang sungguh mengagumkan.
[Yusuf Nurrachman selesai menulis]

Punya teman "pemakau"? Mereka SANGAT mengagumkan. Jam 3 malam jalan kaki 10 kilometer gak masalah, nggak ada itu yang namanya "malas".

Teknik debatnya hebat; kalau ke teman beda, kalau ke keluarga beda, tapi semuanya hebat dan amat meyakinkan.

Teknik penghematan uang? LUAR BIASA! Satu hari dengan uang Rp. 1000 di Jakarta, di luar rumah, cukup untuk menutupi lapar dan haus.

Memang hal-hal negatif itu bisa lebih memotivasi seseorang :D