Thursday, December 14, 2006

Jangan Komen Di Blog Seleb





Jadi siapa aja yang dianggap seleb? Priyadi? Enda?

26 comments:

endhoot said...

ini termasuk blog seleb bukan?

kunderemp said...

hi hi hi hi hi..
aku akan komentar kalau masuk lima besar.. fu fu fu fu

Enda kayaknya udah bukan blog seleb...
Udah jarang yang komentar tuh kayaknya..

Mungkin aku masuk dunia per-blog-an di waktu yang salah.

om7ack said...

dukung!

oon said...

hiks...pantes seleb.blog.com gak ada yang komen lagih :(

Anonymous said...

Aduh! maaf ga sengaja komen... :D

awan said...

ini adalah komentar. semoga berkualitas

budiw said...

caranya trackback kesini gimana ya?

--budiw

Irwin Day said...

Gak Kenal maka ga Seleb :))

IMW said...

Untung saya ndak punya blog, dan bukan celeb.

Jadi kasih komen tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia

alex said...

#IMW
wah... pak made beneran penuh nostalgia taman kanak-kanak. benar... benar pak. jadilah seperti sang surya yang menyinari dunia.
tapi 'berterimakasih' karena adanya sang surya, mestinya ada ya?

*mundur pelan2 lalu mutar badan*

Paman Tyo said...

Taruh kata, Roy Suryo punya blog, meski hanya sesaat, bakalan rame atau sepi komen ya?

MaIDeN said...

Jangan komen diblog seleb hanya berlaku buat orang yang ngarepin (banget) di kunjungi balik oleh siseleb, sampai berfikir untuk berhenti ngeblog lagi ... just 4 kasus temannya Fany saja

Jadi temanya tetap harus konsisten: "Budayakanlah mengkomentari komentar ketika suatu komentar memang layak dikomentari" ... idealnya ..

Gimana dengan one liner comment seperti pertamax dan sejenisnya ? itu just tidak ideal sajalah ...

Vini said...

Idem dgn IMW, saya juga gak punya blog, jadi gak pernah pusing mikirin komentar balik atau kunjungan balik. :D

Tapi saya sering komentar di blog orang. Dan biasanya saya ngasih komentar itu krn tulisannya, bukan krn penulisnya, jadi dia seleb atau bukan, gak ngefek. Kalo emang tulisannya menarik, ya saya komentari, kalo gak ya skip aja.

Gak mau ngasih komentar di blog seleb sih boleh aja, asal alasannya krn emang tulisannya gak menarik utk dikomentari, bukan krn penulisnya adalah seleb.

abe said...

LAPOR Mas..
Saya mau menikah, minta doa restunyah! Hehe.. resepsi diadakan di Medan bukan BANDA ACEH kalau Mas Andika bisa dateng.. ^_^

fian said...

Saya kurang sejutu dengan gerakan ini!!!!
tanda-tanda kemunafikan dan sifat syirik pada manusia yang pada akhirnya akan menjerumuskan pada diri sendiri.

Mau blog seleb, mau blogger baru sekalipun kalau memang artikelnya bagus kenapa harus dijauhkan?
bukankan dengan adanya mereka perkembangan blog di Indonesia makin bagus, kalau masalah mau ngunjungin balik atau ngomen balik ke blog kita itu urusan dia, sifat orang beda-beda jangan hanya karena kita berkunjung/ngelink/komen di tempat blog seleb / blog lain trus nggak berbalas akhirnya sakit hati dan bikin gerakan seperti ini, duh goblok banget yang ikut-ikutan kayak gini.

Bangsa ini membutuhkan talisilahturahmi yang kuat bukan tanda-tanda perpecahan kayak gini.

andika said...

fian: smile!!!! you're on candid camera :p

Iman Brotoseno said...

Kalau saya sih Pede Pede aja sama blog saya sendiri,..jadi nggak ada komen nggak papa, mau komen monggo...Begitu juga kalau mau komen di rumah orang, ya kalau perlu di komeni ya saya tulis, kalau topiknya garing ya nggak komen. Saya khan bloger baru jadi nggak tahu siapa yang seleb, ..kalau Enda itu seleb nggak ?

Jay said...

Ini baru namanya blog seleb. Nulis pernyataan cuma satu baris kalimat, tapi komentarnya banyak.

::: Achmad ::: said...

dukung.. engga.. dukung.. engga..
ahh,, sudahlah...

::: Achmad ::: said...

nb : *mumpung comment itu gratis* ;)
to fian : woii,, sing kreatipp,, comment ning ndi wae kok podho teruss.. hahahah

tk kiridit said...

*angkat thread*
masih rame?

lho? salah tempat yah ... maap

*ngloyor*

basica said...

ada yang baru: sokmutu blog

pramur said...

Numpang nimbrung nih Mas...
Istilah blog seleb dapet dari mana? Bukankah standarnya tidak ada? Apakah karena sering dikomentari menunjukkan kualitas suatu tulisan? Atau menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seleb.

Maaf, bukannya saya bermaksud untuk marah2 di blog alias daerah yang tidak sepantasnya saya berkomentar panjang lebar. Sekali lagi maaf, tapi saya hanya kurang sependapat dengan adanya istilah itu.

Kalau memang tidak ingin berkomentar atau berkomentar tapi dengan niat supaya sang seleb mengunjung balik, toh itu urusan si pembaca bukan? Kalau menurut saya, isi tulisan saya bukan dipengaruhi oleh selera pasar tapi adalah isi kepala saya saja, tidak lebih (kutipan dari joesatch.wordpress.com). Saya tidak pernah mengharapkan statistik tinggi, yg penting bersilahturahmi antar sesama blogger. Syukur Alhamdulillah kalau bisa mendapat teman atau ilmu baru. Hidup ini akan makin indah.

Sekali lagi maaf, saya cuma ingin berpendapat.
CMIIW

otezz said...

Blog seleb itu yang kayak gimana sih..??

fahroniarifin said...

Terus terang saya ndak peduli seseorang itu seleb ato bukan. Saya hanya komentar di blog2 yang memang bermanfaat buat saya atau minimal memberi inspirasi. Enda, priyadi dan beberapa seleb memang memberikan manfaat di blognya. Tapi bloggombalnya pak Artyo jauh lebih menyegarkan buat saya.

Tapi terus terang saya lebih ndak peduli sama gerakan ini. Apakah kalau para seleb itu diturunkan, terus blog ini akan gantian jadi seleb? Saya koq membacanya demikian. Ada kekuasaan diturunkan demi kekuasaan yang lain.

Lalu manfaatnya buat blogger nubie seperti saya apa? Kalo ndak ada, ya saya prek-in aja gerakan ini.

deniar said...

Wah kalo aku sih gak masalah, karena mungkin saja dia menjadikan blog sebagai media untuk berkomunikasi lebih efektif dan efisien daripada via ketik REG spasi NAMA ARTIS dengan embel2 "SMS saya balas langsung dari hape saya". Dengan blog artis pun jadi lebih leluasa berkomunikasi.

Anyway in my opinion, aku menilai suatu blog itu bukan dari banyaknya comment tapi dari postingan yang berkualitas. Dan standar kualitas itu tiap orang memang berbeda, dan perlu disadari pula dalam pendewasaan berblog ria, bahwa blogger itu heterogen, Perbedaan tidak mungkin dihindari. Sekarang bagaimana kita dewasa dalam menyikapinya.