Sunday, May 16, 2004

Bekal Kerja Seorang Sarjana Baru di Bidang IT

Mestinya saya termasuk golongan orang yang sangat beruntung. Saya pernah mencoba dan memakai berbagai macam hardware: Casio FX-702P, MicroProfessor, Apple II, IBM PC/XT, IBM PC/AT, IBM RT/PC, IBM S/36, IBM AS/400, IBM 3031, PowerMac, Sun Sparc 5, Sun Sparc 20, Sun E10000, IBM PowerPC (lupa serinya, 1 workstation kecil, satu lagi mesin seukuran lemari), DEC AlphaStation 5000, DEC Alpha server (lupa serinya), server HP (sebesar lemari, tidak tahu serinya, run HP/UX), berbagai macam notebook.

Tentu saja berbagai OS juga: DOS, Windows {2.x, 3.x, 9x, NT, ME, XP, 2000}, SCO {Unix,UnixWare}, AIX, HP/UX, Solaris {2,7}, OS/2, OSF/1, VMS, Netware, ... Bukan hanya memakai OS, tapi juga mulai dari instalasi dan operasi.

Juga masalah jaringan: IPX, TCP/IP, NetBIOS, X.25, AX.25, ethernet, fiber-optic, wireless, ...

Banyak diantaranya saya kenal sebelum saya lulus kuliah. Padahal saya mulai mengenal PC pada tahun 1986. Jangan bertanya berapa lama saya kuliah :-(

Mungkin itu sebabnya ketika saya ikut mewawancarai sekian puluh pelamar lowongan IT, saya merasa kasihan, terkejut, heran, bersyukur, sedih, gundah, dan sekian banyak perasaan tercampur aduk. Para pelamar itu kebanyakan hanya mengenal Windows.

Barangkali ada yang menganggap saya kaya, sehingga bisa membeli berbagai komputer dan berbagai peralatan lain, lalu mencoba mengotak-atik. Tidak. Saya belum pernah membeli PC dengan uang milik sendiri. PC milik pribadi pertama saya adalah pemberian Tante yang sangat murah hati, sekitar tahun 1987. Itupun setelah sekian tahun ngiler melihat teman-teman kuliah punya PC. Hardware lain yang saya coba adalah milik kantor, milik pemberi pekerjaan, atau milik kenalan yang ingin dibantu mengelola mesinnya.

Ketika saya coba bandingkan diri saya beberapa tahun yang lalu (ketika baru selesai kuliah) dengan para pelamar kerja itu, saya menemukan beberapa kejanggalan. Kenapa mereka belum menyentuh, paling tidak, OS selain Windows? Kenapa (banyak diantara) mereka yang punya PC sendiri tidak mencoba menginstall OS selain Windows? Kenapa mereka yang punya kesempatan untuk menjaring lebih dari 1 komputer tidak mencoba mempelajari TCP/IP?

Apakah masalah minat? malas? sibuk? kurangnya kesempatan? kurangnya fasilitas? Atau bahkan mereka tidak tahu bahwa ketrampilan dan pengalaman diluar semata-mata kuliah akan dibutuhkan untuk bekerja?

Keanehan berikutnya menyangkut pemrograman. Di dunia nyata, membangun aplikasi menyangkut kerumitan yang sangat tinggi, sehingga pasti dibutuhkan kerja sama kelompok. Bahkan bila seseorang sanggup sendirian merancang dan membangun aplikasi untuk client-nya, pasti diperlukan komunikasi. Dua hal ini, kerja kelompok dan komunikasi, kelihatannya tidak disentuh oleh pendidikan tinggi kita. Pengalaman membangun aplikasi yang dimiliki oleh para pelamar itu juga sangat minim. Kebanyakan hanya membuat aplikasi untuk memenuhi tugas kuliah, tanpa mencoba mengasah kemampuan memrogram dengan menerapkannya pada berbagai masalah lain. Akibatnya, penguasaan bahasa, atau paling tidak algoritma, tidak memadai ketika mereka melamar kerja. Barangkali mereka tidak pernah mendengar kata-kata Pak Hartono Partoharsodjo (yang mengajari saya assembly dan C, dan kamarnya di jurusan pernah menjadi pondokan saya selama 1 tahun): "... untuk setiap 1 jam pertemuan di kelas, kalian perlu berlatih sendiri 10 jam ..."

2 comments:

Amal said...

Ha... ha... hanya Windows!

Sedih, sedih, sedih...
Saya beberapa kali diajak diskusi lewat Yahoo! Messenger tentang pemrograman skrip (terutama Perl dan Python) dan hampir semua menanyakan dukungan terhadap kelengkapan visual/GUI (baca: Microsoft Windows).

Wah, ketawa "ngakak" temanku yang sudah kenal sebelumnya di diskusi tersebut: orang satu ini menulis program untuk dijalankan dari prompt! Lah memang iya, GUI sih ada, XFree untuk menjalankan Firefox dan Opera, tapi tetap saja lingkungan pemrogramnya di Vim dan Xterm.

ElangMaya said...

Ka , masa sih kenal PC tahun 1996 , 1986 kali yah .... salah ketik ????